November 2012
1 post
October 2012
5 posts
Hidup buat saya cukup adil.
Adil ketika harus menjadi penetrasi emosi dari beberapa orang yang keracunan emosi.
Adil ketika semua menjadi tidak transparan lagi.
Adil ketika semuanya berserah diri, rendah hati namun tetap percaya diri.
Saya berkali-kali minder dengan ukuran tubuh saya yang kecil dan tidak bisa kedinginan. Berkali-kali putus asa atas kelemahan yang mudah dikenali. dan Berkali-kali pula saya merasa iri hati.
Umur saya yang dibilang terlalu muda untuk mendapatkan ini semua. Bahkan dari kecil, saya sanggup melewati tahap perkembangan anak diatas usia yang sebenarmya. Saya masuk SD pada waktu berumur 5 tahun dan saya dibilang Sarjana Seni yang sama prematurnya dengan kelahiran saya-terlalu cepat.
Bagi saya, cercaan adalah sebuah tendangan naga untuk membuktikan. Dan saya selalu bersikap, bahwa pembuktian tidak harus selalu diomongkan.
Baru-baru ini, saya semangat luar biasa karena dapat freelance project sebagai Pimpinan Produksi Animasi. Walaupun masih dengan tebeng kantor yang sama, setidaknya saya telah mencoba hal yang baru. Selain itu, hal yang paling bisa membahagiakan bagi saya adalah menjadi seorang guru SMK.
Ketika saya menjadi jatuh hati menjadi seorang Guru. Setelah sebelumnya saya sangat malas untuk selalu tampil rapi dan tiba-tiba harus menjadi orang terpercaya untuk membagi ilmunya. Ini bukan pilihan saya. Namun, melihat para murid yang dapat menjawab soal, melihat antusias mereka waktu saya ceramah, sampai mendengar mereka diskusi adalah hal yang sama membahagiakannya dengan nama saya ada di credit title sebuah program. Sekarang, saya bersyukur atas paksaan ini,
Keadilan ini terpenuhi. Asal kita dapat bertanggungjawab atas sebuah pilihan, maka kita akan tau betapa berartinya syukur sebuah nikmat.

Miss Yosa and Miss Arum
Kalau boleh saya menyebut nama Tuhan yang tadinya saya hindari, saya akan berterimakasih dan merengkuh dengan erat atas cobaan yang sudah membuat saya membuka mata.
Bukannya saya meragukan Tuhan saya, Tuhan kamu, Tuhan alam semesta dan Tuhan kita semua. Saya hanya berpikir bahwa kita sudah diberi hak penuh untuk bertanggungjawab atas semua yang kita lakukan. Tuhan menghadiahkan manusianya kemuliaan dan kejujuran yang tidak berpura-pura. Tuhanlah yang lebih percaya pada manusianya agar sanggup untuk melawan setan yang diciptakan-Nya juga.
Atas nama Tuhan (yang sengaja saya tidak sebut nama-Nya didepan kalian)
Saya berterimakasih atas musim hujan ini, mengiring saya atas puji-pujian yang nyaman sebagai penjaga malam. Turut membuka mata saya akibat lelah dengan dusta atas pembelaan atas nama Tuhan-Nya. Tuhan bukan sebagai kedok untuk hidup nyata di dunia. Tuhan bukan setengah-setengah, bukan koreng yang kamu tutupi, bukan alasan untuk uang yang ditilapkan.
Hujan cukup gentar untuk dipersalahkan, malam cukup anggun untuk diperdaya. Jangan pernah jadi orang abu-abu. Meletup menyalahkan orang, namun lari atas nama keamanan. Hanya ada dua pilihan surga dan neraka, pantang jadi orang setengah-setengah. Mulutnya ber-uap dan bau, malang dikasihani diri sendiri, merasa terbebani.
Sekalipun hidup terlalu liar dan suram untuk ditapaki kaki, manusia selalu menjadi otak utama. Manusia itu sempurna. Tanggungjawab ada ditangannya.

Foto ini diambil di Pengasapan, Semarang.
September 2012
5 posts
August 2012
4 posts
Tuhan, jika mengeluh itu sebuah dosa dan perpikir positif itu berlebihan, maka tambakan pahala pada setiap jengkal nadi niat hidupnya.
Saya berdoa pada subuh tadi pagi. Suara adzannya masih sayup-sayup terdengar lewat toa masjid. Anginnya masih sepoi tanpa debu dan polusi. Airnya dingin dan jernih membilas mimpi. Jika sampai hari ini saya masih merayakan ramadhan dan masih bersujud melalui 5 waktu, itu adalah kepercayaan dalam hidup saya. Saya bertoleransi akan perbedaan, berangkulan dan saling menghargai. Saya juga punya Injil di rumah, baca buku Sidhata, dan senang dengan Syekh Siti Djenar. Hak apa bagi saya untuk memaksa. Jika semua dilarang, maka tak ada pilihan, dan tak ada lagi yang perlu dipertanggungjawabkan. Banyak yang bilang kita akar kekeluargaan, mati satu tumbuh seribu, tapi beda ras sedikit langsung mengadu. Saya sebenarnya tidak menyarankan menjadi orang tua yang lekang oleh jaman. Sikap yang sok berontak namun tangan tak mampu, bagi saya, tidak lebih dari bayi yang sedang netek ASI di Ibu.
Saya yakin, pasti mereka takut menyalahkan Tuhan dan berlari menjauh dari peraturan.
Semoga masih ada keyakinan dalam liarmu, menjaga kelaminmu, kurangi berkhotbah dan perbanyak mendengar. Yakin dengan apa yang kamu miliki. Jangan melulu percaya pada bius provokasi. Hak-mu berkurang jika lemah terbuai ilusi.
Untuk para pendekar di laga kehidupan, mencari medali bukankah urusan belakangan? Terbius wanita jadi sesat ditimbun kerjaan? Jika dalam satu paham saja, kita masih ribut mementingkan ego sendiri, untuk apa diciptakan dua plihan? Kalau kamu bilang ini kehidupan, seharusnYa kamu siap akan kejutan, bukannya bersembunyi dan di’guru’kan oleh usia. Kami yang muda bisa-bisa bilang:
“Cukupkan usia-mu, istirahatlah dan tenang damai mengais mimpi”
Saya yakin pagi ini, demi emosi yang melonjak ketika sakit hati, saya beranikan diri untuk tidak se-visi lagi.
Sebelah saya bau bayi. Harum. Minyak telon diusap di perut seorang perempuan sebelah bangku saya supaya tidak mual di jalan. Pada sebuah bus jurusan jogja-semarang. Penuh penat orang-orang berjejal setelah subuh terdengar. Amunisi tiap orang berbeda, walaupun ini bulan puasa, tiap orang melegakan pikirannya untuk sebuah tujuan yang akan dicapainya dalam alat transportasi paling merakyat ini. Maka saya tidak heran jika hampir semua penumpang memakai jaket atau penghangat tubuh lainnya. Hanya ada dua jenis penumpang disini. Satu pekerja, dan kedua mahasiswa. Tipe penglaju atau pulang tiap sabtu. Entah dari mana awalnya akhirnya mereka saling mengenal. Bu Rodyah naik dari Canguk, Nanda dari Menowo atau Pak Hamid dari Secang. Ada juga beberapa penumpang ‘baru’ seperti suster yang naik dari terminal bayangan Kebon Polo dan saya yang terburu-buru diantar Papah memilih bus yang langsung berangkat ini.
Jika saya naik bus patas, saya akan menghabiskan waktu sekitar satu jam lagi untuk menunggu. Bus Trisulatama yang mungkin sudah tidak layak pakai dengan sopir dimabuk setoran ini tidak jarang membuat penumpang berkeluh kesah dan ngomyang sendiri. Seakan menyuruh saya untuk meng-iya-kan pernyataannya, seorang bapak berdiri di sebelah kursi saya yang sebangku dengan perempuan bau bayi tadi. Dia berkata: “Oalaaah… nasiiib nasiiiib! Bus kok rak ono le nggenah…”. Bapak tadi memandang semua sejenis. Sejenis buruh yang ditekan dan digaji minim. Begitupula dengan nasib semua penumpang disini, berdiri berderet layaknya antrian pembagian zakat. Tau bus ini berkapasitas maksimal 59 dengan seat 2-3, kernet masih saja menyuruh sopir untuk menjejali penumpang yang langsung diseret dengan tangan untuk memasukinya. Ah!
Perempuan bau bayi sebelah saya agaknya agak risih dengan dorongan yang terjepit deretan penumpang yang tidak mendapat kursi. Melalui pinggir kacamata saya yang sedikit berkilau dengan sematan cahaya malu-malu matahari, dia lantas tidak dapat berkelit, karena kami akan menjadi sama.
Sang suster tidak kebagian tempat duduk, menjinjing tas hitam dari yayasan. Suster tetap tersenyum yang saya yakin dia tidak akan megharapkan iba dari orang Indonesia yang katanya santun dan dermawan. Hingga saya memaksa membawakan tas suster tersebut, saya sendiri bersikukuh agar saya tetap duduk sampai tempat tujuan dengan selamat. Perempuan bau bayi melihat saya repot.
Kalau bicara mayoritas dan meladeni sikap sok minoritas, dari sinilah seharusnya dapat menjadi pemikiran. Jika bicara kebebasan dan seenaknya mengumpat, mari kembali ke alam yang tersaji. Dari hal terkecil saja, mungkin kita bisa lupa. Mau mengokohkan suara hati, mungkin susahnya setengah mati. Masih mending kalau mati, jasadnya terkubur, dan nyawanya melayang diabadikan jaman. Dan paling-paling namamu terukir atas keterlambatan.
Suara di dalam bus ini sama. Cepat-cepat ke tempat tujuan dan pulang dapat uang. Roda kehidupan berjalan seiring laju kecepatan. Asal bisa mengikutinya, pasti tidak sesulit yang dibayangkan. Hidup ini nyata, jalani dulu saja sebelum melangkah ke bab rangkuman. Semua orang mempunyai kehebatannya sendiri-sendiri, perempuan bau bayi turun di pabrik garmen dan siap menyediakan kursinya untuk suster agar dapat duduk di sebelah. Perempuan itu tau, jika kita masih berada dilingkaran tekanan, jangan terlalu ambisius untuk melawan. Sulamlah hari dengan kebahagiaan atas kecukupan. Provokasi hanya untuk orang ketinggalan jaman. Kalau ingin merubahnya, sisakan waktu untuk diskusi diri, jangan keluar tanpa akal dari lubang penyiksaan. Tergesa-sega hanya bunuh diri sesaat, kemudian bisa jadi hidup kembali tanpa reinkarnasi. Perempuan bau bayi pergi membawa arus sinergi mimpi. Semua orang ingin realita pasti.
Suster beralih ke sebelahku, tersenyum dan menyapa: “Turun mana, Mbak?”
Percakapan singkat kami menuai cerita dan meleburnya perbedaan. Kacamata saya terbias luapan semangatnya matahari. Melihat lalu lalang orang dan bersliwernya kendaraan. Menahan emosi bunyi klakson bertubi-tubi. Merangsang syaraf motorik akan kehidupan melalui perjalanan singkat yang rendah hati. Kalau ada kaca, bisa-bisa saya malu lihat diri sendiri.
Sambil menepi ke jendela dan merasakan tumbuhnya jerawat di pipi kiri, saya tidak sedang ‘Menghabiskan Matahari’ seperti lagunya Seek Six Sick atau pelaksanaan ritual di Jepang, Seikerei (Hormat kepada matahari). Saya berteman dengan munculnya matahari. Karena kita bersyukur atas dimulainya esok hari.
Berjabat tangan dengan Matahari, senyumnya pasti ada lagi sebelum kamu memilih bunuh diri.

Photograph by: Chandra Pradityatama
July 2012
4 posts
Sudahlah, waktu yang menjawab keangkuhanmu.
Pernah suatu kali, saya menemui orang yang terlalu mengurung diri. Asik dengan kata-kata dan imajinasi yang tidak berbuah sama sekali. Bengong dan berusaha menatap matahari. Katanya suka hujan tapi pakai payung dan terlihat banci. Tindak tanduk orang itu lantas dijuluki sebagai seniman. Lain dengan saya yang kata orang memang belajar otodidak berke-seni-an. Namun, saya dan orang itu tidak memiliki seni yang seiman.
Putus asa – beradegan manja – bikin topeng- main mata – harapan untuk diperhatikan. Lucu! Saya mengejanya melalui sebuah indera yang mungkin kalian tak paham. Saya merabanya melalui sebuah makhluk yang tak semua orang kenal. Saya dan orang itu tidak terlalu kenal. Makanya, sikap lugas dan sengak saya semakin menjadi-jadi di depan para penikmat sensasi.
Buang waktu jika saya mengobrol dengan pemuja keraguan.
Dilain hari, ada segerombol orang yang sangat konsisten akan mimpi besarnya. Orang-orang itu ngotot atas kepercayadiriannya. Mulutnya hamper berbusa jika bercerita. Entah itu ilusi atau malah bisa mereka terjerumus dengan ruwetnya kemunafikan.
Saya agak takut menghadapi ocehan mereka yang lebih meyiksa daripada burung emprit. Mending kalau burung beo, burung beo bahkan akan cuma menirukan apa yang dikatakan pemilik dan orang-orang disekitarnya. Ini emprit, sayang… emprit yang cuma jago bergerombol kala cari makan.
Mereka pun begitu, nyalinya luar biasa! Terlihat sangat antusias dengan kegigihannya menaklukan semesta (katanya). Sulit bagi mereka untuk bisa berkolaborasi dengan orang baru. Mimpi, kamu!
Lalu dimana saya berada? Saya bukan ditengah-tengah si dia dan mereka. Biarkan saya belajar menimbrung dan tetap menerawang lautan abu-abu. Saya suka menikmati desiran omong kosong dan tertidur di buaian keangkuhan mereka. Jadi Jumper melompat dari gedung satu ke pegunungan Alpen, menghitung uang tercecernya Paman Gober, dan yang terakhir, saya akan menulis di lapisan kerak bumi yang susah digali. Kamu akan temukan saya abadi nanti.

Photograph by Chandra Pradityatama
May 2012
1 post
Saya sudah bilang, tidak ada orang sibuk! Hanya, mungkin beberapa orang tidak bisa membagi waktunya.
Berbagai rayuan tiket Morissey sampai ancaman saya bakal tua seketika kalau saya tidak berlibur, ini cukup menohok tenggorokan saya. Cari obatnya? Nggak ada! Bahkan Mas Pacar dengan cutenya juga bilang saya harus menabung untuk masa depan kami. Saya harus bersabar karena dia berjanji, akan banyak waktu untuk kami berdua kemana saja.
Saya menyerah? nggak kemana-mana?
Hah? Here this, Im telling ya…
Seminggu yang lalu -yang konon long weekend- Semarang sepi!
Ini terlalu ajaib bagi saya: menyantap pizza tanpa menunggu lama, karaoke tanpa reservation dan booking villa yang murah. Saya tidak akan membahas hari Jum’at saya yang nanggung dan masih harus masuk karena beberapa kerjaan belum kelar. Ok, this is my responsibility. I mean, saya nggak bakal mengeluh! Thats a big deal…aha…aha…!
Kamis , 17 Mei 2012
Saya melewatinya dengan teman-teman macam arisan Ibu-ibu PKK. Bedanya, kami dipertemukan gara-gara persahabatan para lelaki keren, pinter dan banyak mimpi. Sekarang para lelaki itu sekarang membentuk sebuah Advertising kecil-kecilan dengan mata uang dollar. Well, after karaoke, kami ber-japanesse ria di Shibuya Citraland.
“Couples Day!”

Jum’at, 18 Mei 2012
Jum’at dan Sabtu kami mengadakan Gathering dan pesta perayaan selesainya salah satu program yang saya pegang. Teman-teman produksi dengan muka kere hore-nya sangat antusias. Karena saking jarangnya kami piknik, maka sekalinya, kami membawa soundsystem setara 17-an di kampung halaman. Pesta bakar jagung, masak kerang sambil karaoke-pun nonstop sampai pagi. Senangnya lagi, karena kami telah seperti sebuah keluarga besar. Namun, sayangnya…sayang sekali… Mas Pacar tidak bisa ikut karena ada kerjaan motret pada saat yang bersamaan. But it doesnt matter. We’ll have a good times, sooo much more…




Hari-hari biasa, saya adalah pekerja kantoran yang jarang cuti dan rajin menyapa. Saya punya banyak teman. Kantor saya mayoritas beragama Nasrani dan Katholik. Ketika berdo’a, mereka dengan caranya, dan saya tetap mempunyai ruang untuk MenyembahNya.
Saya tidak fanatik Lady Gaga. Tidak harus menyembah Billy Corgan dan tidak juga mengharuskan nonton The Avengers 3D.
Siapa bilang, saya kapitalis? Kalau perlu, saya berani mengajak anda pergi ke tempat-tempat kumuh dan banyak orang mengenal saya.
Siapa bilang saya memihak hedon? Saya masih mau mengendarai motor sendiri jogja-semarang dan membawa dagangan Papah.
Banyak orang mau mengkritisi tapi nanggung, mau berkarya tapi mati kutu.
Kalau masih ribut dengan ego sendiri, mending jangan hidup deh. Coba kita bergembira membawa energi positif. Biarkan Lady Gaga dan para Fans nya, toh nyatanya, ada bencana sedikit, respon kita mirip Polisi India di film Bollywood kok. Gembar-gembornya membantu, update status layaknya Dewan Perwakilan Rakyat, bukannya sudah banyak? Malaikat tidak dapat ditipu dengan acting.
Masalah terbesarnya, saya cuek luar biasa. Kalau sudah bekerja, muka saya jadi lebih masam daripada biasanya. Kadang saya terlalu serius dan menuntut serba cepat. Seakan nggak punya ruang kecil buat bersandar….
Namun baru kemaren saya ditanyai orang: ” Mbak Yosa sudah lama nggak nulis…”
Saya sadar, ada beberapa artikel yang belum saya kirim. Ini kerjaan sampingan. Dan beberapa pameran yang belum saya ikuti lagi. Ya! Ada banyak waktu….
Tuhan itu baik kok! :)
April 2012
1 post
Sebulan yang lalu, saya diribetkan dengan beberapa masalah kantor, yang sebenarnya sudah menjadi biasa. Seakan hendak keluar dari rutinitas yang membosankan, dan ingin mencari tiket tour liburan secepatnya, saya sudah mengumpulkan beberapa uang di jauh hari sebelumnya. Tanggal 23, hari jum’at libur nyepi, yang tepat untuk long weekend.
Berawal dari buku yang saya punyai tentang Kartini, saya meminjamkannya sebagai riset sekaligus properti FTV bertemakan Kartini kepada teman-teman saya. Buku warna merah Sehabis Gelap Terbitlah Terang cetakan ke-dua belas itu, sudah saya review di tumblr yang saya posting tanggal 21 Agustus 2011 lalu.
Antara bimbang liburan dan keinginan untuk bergabung dalam FTV sempat membuat saya tak henti-hentinya berpikir. Kemudian saya mengajukan diri secara serius untuk turut dalam proses produksi. Bukan dengan program lain yang sudah saya pegang, lantas saya kejar setoran yang siapa tau bisa saya tabung lagi. Toh, saya pikir malah liburan long weekend yang tertunda bisa menjadi hal yang lebih mengasyikkan.
Ini tentang Kartini.
Walaupun ada perdebatan mengapa Kartini menjadi Pahlawan Wanita, mengapa ada hari Kartini, dan mengapa tidak Pahlawan yang lain, ini tidak lantas menyurutkan tekat saya untuk menjadi penerusnya. Bukankah akan lebih baik jika banyak pahlawan wanita kedepannya.
Jauh, dari anggapan mengenai kami yang industrialis, tanpa kadang tidak merasa bahwa kadang mereka melacur juga, kami tayangkan ini di stasiun tv publik, bukan swasta. Catatan penting juga yang harus digarisbawahi, kami menantang ikhlas, tidak sertamerta berapa duit yang kami dapat.
“Saya senang garap film ini”
5 hari dengan mata sayu gara-gara pulang pagi dan berangkat pagi lagi ini, kami lalukan di Semarang-Jepara. Boleh dihitung, berapa jumlah wanita yang ada di setiap proses produksi. Ini bukan berat bagi kami wanita, namun ini sudah menjadi tantangan sendiri.. Nah, saya tidak perlu kan, bercerita detailnya shooting ini? Semua wanita punya caranya tersendiri untuk menjadi tangguh.
Terimakasih Kartini. Saya melanjutkan perjuanganmu dan… menjadi gadis modern yang ingin sekali berkenalan denganmu.
SAKSIKAN SERAUT WAJAH KARTINI 21 April 2012 DI TVRI JAM 20.30
February 2012
3 posts
Semarang, 25 Februari 2012
“Sewaktu kecil, saya dan adik selalu bermain bersama, memakai baju kembar, dan warna pita yang selalu berwarna. Mama tidak membedakan apapun diantara kami. Kami satu sekolah, saya kelas 5 SD dan adik kelas 1 SD. Walaupun adik suka berambut pendek dan saya suka rambut panjang, namun Mama selalu menyempatkan menghias rambut kami sebelum Mama pergi ke kantor. Kami jarang berebut barang, karena Mama dan Papa selalu membelikan barang-barang kembar untuk kami berdua, bedanya: saya merah, dan adik hijau.
Adik sangat manja dan gampang menangis, sehingga teman-teman saya tidak terlalu suka jika adik ikut bermain. Di hari Jum’at dan Sabtu, adik sering menunggu saya pulang untuk sama-sama menonton Film Vampire di SCTV (karena di rumah pasti belum ada orang).
Jika malam tiba, sesudah belajar dan menata jadwal pelajaran untuk besoknya, kami bergegas ke kasur lalu membaca do’a tidur dan do’a orang tua secara keras-keras agar Mama dan Papa ikut mendengarkan.”

Sejumput cerita waktu kecil ini menjadi kenangan bagi kami. Kala kami tidur bersama lagi-entah di kost saya ataupun adik. Kami tertawa mengenangnya. Saya selalu bangga dan support besar baginya. Apapun kesalahan yang pernah dilakukan oleh kami berdua kepada orangtua. Kami berterimakasih pada kesalahan, karena: kita tidak akan pernah tahu kebenaran, jika kita tidak pernah tahu kesalahan. Kami membuat satu kesalahan, namun tidak akan pernah mengulanginya.
Inilah waktu. Waktupun akan mencintai kami, jika kami juga mencintai waktu. Hingga saya dapat bercerita se-waktu…
A tribute to my beloved sister: Dias Alisha A.K.A Dias Senja Juniko
“Love you so…”
Selain tempat favorit, Pantai adalah terapi terbaik untuk kesehatan. Sudah lama saya menderita asma. Salah satu penyakit yang saya punyai sejak kuliah. Mungkin karena kebanyakan begadang, naik motor hujan-hujanan, atau kegiatan seharian. Dan itulah, mengapa saya benci asap rokok, harus memakai masker agar tidak terkena polusi, dll. Beruntunglah kamu yang tidak mempunyai penyakit jenis ini.
Kamis kemarin, sesak menusuk dada saya ketika tidur. Lantas saya ke Dokter dan tepar luar biasa, apalagi Dokter saat itu belum bisa memastikan kondisi penyakit saya. Padahal saat itu, sedang ada jadual produksi program yang saya pegang. Saya sedang ber-api-api-nya dalam program ini. Sungguh saya tidak enak hati dan merasa paling sial sedunia. Beberapa orang support saya habis-habisan dan meyakinkan bahwa Show baik-baik saja, namun ada juga yang mungkin lupa kalau saya adalah perempuan. Ya! Perempuan-Sebaiknya kita tidak membicarakan ini sekarang.
Di sabtu sore nan cerah ini (sebelumnya saya berdoa supaya tidak hujan), saya mengajak kekasih saya untuk menghirup udara pantai. Tanpa direncanakan dan ribet sana-sini, kami janjian dengan beberapa couple terdekat, alhasil kami mengadakan BBQ Party dadakan. Tidak ada perayaan, tidak ada untuk pujian, yang ada hanya kesenangan. Saya tidak akan merinci makanan apa yang kami buat, tetapi saya memamerkan foto yang jauh lebih akrab dan terjepret karena kami tidak sempat terpikirkannya. Sejenak, saya lupa penyakit saya. Lupa dengan beban kantor yang jauh lebih tertahan di punggung. Biar, saya tidak ingin mengurangi hari bahagia saya-yang hilang karena memupuk usaha orang lain. Berapapun harga atau mahalnya obat, tidak dapat menggantikan kebahagiaan.




Walaupun Nenek saya bukan seorang Dokter, namun beliau pernah bilang kepada saya, bahagia adalah obat paling mujarab dari penyakit apapun. Saya hampir lupa,bahagia adalah sebuah keharusan tiap umat manusia.
December 2011
6 posts
Sebulan ini saya hampir mengalami mati kutu! Tuhan memberikan waktu 24 jam bagi semua umat-Nya dan tidak pilih kasih, dan bagi saya itu masih kurang. Saya harus kerja ekstra dengan double stamina. Meeting sana-sini, survey yang tak berujung hingga lembur yang nggak mungkin saya sombongkan dengan update status, nge-blog, atau nge-tweet. Bagi saya, saya terlalu asyik dengan dunia nyata saya. Kalaupun stress dengan kerjaan, saya hanya menanti wiken sama Mas Pacar, mencari makanan yang super duper enak dan pijat refleksi. Saya sangat suka me-manage waktu.
Memang jarak Semarang-Jogja dapat ditempuh dalam waktu minimal 3 jam. Cepat! Permasalahan terpeliknya adalah: Saya harus benar-benar meninggalkan pekerjaan sejenak, pun dengan deadline atau tugas dadakan yang sudah sangat sering saya alami. Bagaimana saya harus berduet dengan masalah itu. Jangan sampai deh liburannya berubah jadi Shooting Schedule.
Tanggal 16 terencana dan sesuai dengan keinginan saya. Saya sengaja bolos Les Bahasa Asing agar dapat tiket Jogja. Saya berangkat dengan Mas Pacar yang kebetulan juga ada keperluan di Jogja-Neneknya masuk RS Panti Rapih. Asalkan kalian tahu, transportasi Semarang-Jogja (kalau tidak dengan kendaraan pribadi) tidak tersedia 24 jam. Kalaupun saya terlambat dapat Bus/Travel, saya harus mengalah lewat Solo. Saya tidak mau liburan terencana saya ini bikin capek, se-capek Produksi Talk Show dengan orang kolot.
Ohya, saya punya Adik yang begitu manis, Dia berhasil membuktikan janjinya dan menghapus kesalahannya dulu dengan bekerja sendiri. Dia adalah penyiar radio di salah satu radio ternama di Jogja. Saya menginap di kost-annya yang berukuran 3x3m tersebut.

Sabtu, 17 Desember 2011
Hari sabtu saya menjenguk Nenek-nya Mas Pacar sebelum saya menyempatkan jalan-jalan. Mas Pacar mengajak kedua adiknya untuk ikut berwisata ria ini. Tujuan pertama kami adalah Mini Cafe -yang entah apa namanya- saya biasa menyebutnya Poffertjes, yang memang menjual makanan itu.

Saya berani jamin, kalau Semarang berhasil membangun Mini Café semacam ini lengkap dengan dekorasi ala garden party dan makanan segarnya, pasti harganya melambung tinggi. Disinilah salah satu alasan mengapa saya mencintai Jogja. Apa saja mudah didapat.
Selanjutnya, Kami menuju ke KickFest yang saya rasa lebih mirip Tanah Abang. Manusianya tumpah ruah, apalagi sedang berlangsung lomba untuk para Bikers Jogja. Adu fashion dan ajang mencari jodoh kiranya tidak dapat lepas dari event ini. Saya melihat beberapa ada yang hanya duduk-duduk dan lirik sana-sini. Bagi saya, saya hanya berharap semoga menemukan beberapa teman-teman lama. Karena ada Stand untuk Craft milik teman, saya membeli gantungan kunci dan hiasan dinding berbentuk owl yang sedang nge-tren, saya pikir ini akan lebih berguna.

Seakan belum puas, kami mengunjungi Shopping untuk membeli beberapa buku. Saya agak lunglai begitu tahu banyak buku yang belum sempat saya baca. Namun saya tidak akan membeli buku yang dapat ditemui di Semarang, saya dan Mas Pacar hanya membeli Kisah Mata dan Trilogi Insidennya Seno Gumira yang kebetulan sudah pernah kami baca. Buku tersebut akan saya jadikan koleksi untuk anak Kami kelak.
Taman Budaya Yogyakarta (TBY) yang selalu mempunyai Event besar, terletak bersebelahan dengan Shopping. Selain Jogja Nasional Museum, TBY juga merupakan tempat diadakannya Biennale. Namun, kala itu kami belum dapat mengunjunginya.
Kami berempat segera menuju ke tempat makan, Nana Mia. Resto dengan konsep Traditional Pizza ini sudah saya rekomendasikan hampir ke seluruh teman-teman saya. Saya juga janjian sama adek saya yang sudah pulang kuliah. Alhasil, Saya dan Mas Pacar sama-sama mempertemukan adek-adek kami. Lucu memang, tetapi saya menyukai keakraban seperti ini.



Karena hujan dimana-mana sementara adek saya harus bekerja jam 9 malam, dan Mas Pacar beserta adeknya harus kembali menjaga Neneknya, kami pulang ke tempat masing-masing setelahnya.
Minggu, 18 Desember 2011
Jam 9 pagi Mas Pacar sudah menjemput saya di kost-an adek. Kami sudah berencana ke Biennale sesuai dengan keinginan kami sejak lama.
Well, sedikit tentang Biennale. Beruntungnya saya mengenal dunia seni, lulus dari Institut Seni yang cukup terpandang dan mempunyai banyak teman Seniman yang ‘Seiman’. Event dua tahunan ini selalu berhasil membuat saya menyempatkan waktu sesingkat-singkatnya.
Mengusung tema “Religiusitas, Spiritualitas dan Kepercayaan”, Biennale menampilkan 40 seniman Indonesia dan India secara individual maupun kelompok. Dalam sejarahnya, jalur perdagangan dan agama telah dimulai beberapa millennium yang lalu. India dipilih karena Indonesia dan India memiliki banyak kemiripan, baik konteks budaya, keanekaragaman, dan agama.








Beberapa Seniman berhasil membuat saya merasa di India. Display pameran dan pencahayaan seakan tidak pernah salah dalam Biennale. Saya datang kesana pada pukul 11 siang, masih sepi. Beberapa orang menyempatkan diri berfoto karena saking bagusnya instalasi pameran tersebut. Saya jadi heran, mereka berniat menonton dan mendapat informasi dari pameran, mendokumentasikan karya atau sekedar gaya-gaya-an semata?

Whatever, yang jelas event macam ini, selalu saya sadari, tidak akan dapat saya jumpai di Semarang -yang pernah dikatakan Ratna Sarumpaet “Kuburan Seni” itu. Saya merindukan Jogja dan selalu ingin bertemu dengan seni-seni didalamnya. Semoga kedepan, saya dapat ikut memberikan kontribusi berharga untuk Kesenian dimana saja.
Memang muluk-muluk, tetapi saya rasa saya bisa dan tidak akan ada yang dapat menendang tekad saya.
Jam 4 saya pulang Semarang dan akan selalu merindukan Jogja. Akan selalu punya waktu untuk Jogja. Tidak perlu jauh kemana, cukup Jogja.

With Love,
Yosa Irfiana
November 2011
1 post
October 2011
12 posts

Dengan cepat seseorang mematikan rokoknya tepat ketika saya menengoknya. Ini bukan apa-apa, bukan-nya saya menolak asap rokok dan jijik dengan bau bir. Bukan! Kalau hanya masalah alkohol, saya sudah lama berkenalan dengannya, jauh….waktu saya masih kecil, kira-kira kelas 2 SD, karena waktu kelas 1 SD saya masih berpikir bahwa alkohol itu sehat, sehat walaupun overdosis sekalipun.
Mulanya saya mempertanyakan pada Nenek saya. Oia, Nenek saya perokok aktif. Beliau sudah dari remaja merokok, beliau juga tahu mana rokok yang kandungan nikotin-nya sedikit atau banyak. Saya maklumi karena nenek saya dekat dengan dunia hiburan, tak apalah, mungkin suatu keharusan untuk gaya hidupnya. Biar terkesan gaul, keren, kaya, atau malah menutupi ketidakpedeannya. Whatever!
Nenek bilang kalau alkohol itu adalah lambang pertemanan sejati. Kita bahkan bisa berkenalan, mengobrol, lalu menjadi teman baik lewat sebotol bir. Sangat dekat! Tetapi saya baru bisa menikmatinya kalau umur saya sudah 17.
Jujur, jika melihat kepulan asap dari rokok Nenek dan ceritanya, saya merasa miris karena diluar sana, teman-teman sudah siap meledek saya, seolah saya memiliki dosa turunan. Dosa yang tidak bisa dimaafkan. Padahal di mata saya, Nenek hanya menikmati hobby-nya, menikmati rokok sambil melamunkan pria yang meninggalkannya, bermain judi untuk menghabiskan waktunya, atau sesekali meneguk bir berharap tetap bisa membahagiakan anak-anaknya, tidak ada yang salah. Saya pun belum pernah mencicipi anggur, bir dan merokok, sebenarnya saya juga tidak berharap bisa mempunyai nenek seperti Nenek saya.
Katanya, kampung saya adalah kampung gali. Ketika melewati gang tikus dari rumah Papah Mama ke rumah Nenek, kadang saya menemui segerombolan penikmat anggur seperti yang sudah dikatakan oleh nenek saya. Mereka tampak bahagia, bernyanyi riang bersama, berteriak mewakili dunia, supaya bisa melayang ke luar angkasa. Tidak ada raut kesedihan terpancar dari fantasi mereka, mereka jelas tidak takut pada siapapun, Ketua RT juga tidak melarangnya. Gelas itu satu, digilir bersamaan dengan tuangan anggur didalamnya. Saya melewati gang tersebut dengan biasa saja, tidak ada godaan ketika itu, ketika saya masih kecil.
Saya berpikir bahwa orang-orang tersebut tidak berdosa. Mereka bahagia, mereka menganggap hidup mereka sempurna, mereka suka dengan dunia. Mereka tidak merana seperti yang Ustad Puji bilang. Pun dengan teriakan-teriakan mereka, mereka tidak merayu orang, orang datang dengan sendirinya untuk bersenang-senang. Beda dengan Adzan yang sering dikumandangkan oleh anak buah Ustad Puji, namanya Bang Yayan. Bang Yayan dengan susah payah merajuk anak-anak kecil seperti saya untuk beramai-ramai ke Masjid, ke Rumah Tuhan. Padahal Bang Yayan tidak tahu, apakah sebenarnya dalam hati kami ikhlas atau pura-pura mau. Toh Ustad Puji juga beristri dua, sedihnya lagi teman-teman tidak menganggap itu dosa. Mereka bilang itu wajar karena Ustad adalah sosok sempurna.
Kalapun ada pemikiran bahwa lingkungan bisa turut membentuk pribadi, harusnya saya tidak akan bisa menulis ini. Dan walaupun saya pernah mengenal seorang pelacur sampai dikhawatirkan Mamah, justru saya malah merasa senang. Senang bisa diberi agar-agar rasa strawberry, senang bisa dibacakan cerita, senang bisa diberi tau berbagai macam laki-laki, oleh wanita itu. Toh ajaran Ustad Puji dan Wanita itu sama. Teman-teman saya yang menganggapnya berbeda.
Selalu banyak pertanyaan tentang anggur, bir, dan orang-orang di sekitar saya. Ketika saya masih kecil.
Namun dewasa ini, saya malah berterimakasih pada orang-orang dan suasana di sekitar saya dulu, sehingga saya tahu mana yang baik dan mana yang lebih baik. Sekiranya saya pernah mencicipi rokok dan muntah karena alkohol, saya tahu saya tidak akan ‘mencicipinya’ lagi. Karena ini pilihan saya. Mudahnya, ini tidak sehat. Saya tidak ingin menyakiti diri saya sendiri, rasa sayang pada orang lain berawal dari diri.
Saya bangga tidak menjadi pelacur yang sudi bobok siang dengan tarif murah, saya bangga tidak harus menunggu merokok untuk mencari ide, bahkan saya bersedia melek untuk tetap bekerja tanpa alkohol.
Didepan saya, silahkan nikmati apa yang dihalalkan oleh diri anda sendiri. Bersenang-senanglah. Saya cukup terbuka kok, walaupun pada akhirnya anda akan mematikan rokok anda untuk menghormati saya.
Ungaran, 15 Oktober 2011
Photograph by: Chandra Pradityatama
September 2011
2 posts
August 2011
6 posts
Banyak orang berbicara SELERA. Makanan itu selera, cantik itu selera, fotografi itu dinilai dari selera, seni itu tidak lain tidak bukan karena selera, apa-apa selera. Sampai jika ada sekumpulan orang yang satu selera, mereka membentuk sebuah Komunitas. Lantas tanpa disadari, Komunitas tersebut adalah yang terbaik menurut selera mereka sendiri.
Ini yang namanya Persepsi.
Janggal rasanya jikalau dewasa ini kita masih mempertahankan sebuah selera untuk hal-hal yang bersifat kemanusiaan. Sampai muncul kata Idealis, tidak ada yang salah. Namun penerapannya-lah yang akan dinilai dimana seharusnya letak Persepsi tersebut?
Tentu kita tidak asing dengan kata “Mufakat”, bahkan Musyawarah Mufakat sudah menjadi bagian dari sistem demokrasi di Indonesia. Dalam dunia Politik, dikutip dari Wikipedia, menurut W.A Robson, dalam The University Teaching of Social Sciences mengatakan bahwa “Ilmu politik mempelajari kekuasaan dalam masyarakat, yaitu sifat hakiki, dasar, proses-proses, ruang lingkup dan hasil-hasil.” Suatu pemimpin yang baik akan memutuskan sesuatunya lewat musyawarah, karena sangat mempengaruhi bagaimana masyarakatnya bertindak dan berlaku.
Pada terapan saya, muncul masalah lantaran beberapa orang di sekitar saya, ilmu ini menjadi alasan untuk mengaburkan ketakutan orang atas sistem dan aturan. Faktor inilah yang mendorong saya menulis disini. Mungkin, nama saya belum ada apa-apanya untuk menilik suatu kasus, namun bukannya sekarang sudah tidak jaman minder lagi? dan bukan tidak mungkin, beberapa pengalaman saya adalah contoh nyata pada ilmu ini.
Keberuntungan saya yang pertama adalah mendapatkan Mata Kuliah Psikologi Persepsi yang fungsinya baru saya ketahui ini. Masuk di salah satu Institut yang terkenal karena seni dan orang-orangnya yang juga tidak dapat lepas dari persepsi, membuat kemujuran itu menjadi kredit untuk mempunyai banyak link nantinya. Saya mempunyai tata cara untuk menyamakan persepsi, walaupun pada saat kuliah saya sering kesulitan mencerna kata-kata Dosen Pengampu Mata Kuliah. Mungkin saat itu saya belum banyak mengerti dunia luar, saya terlalu fokus ke pelajaran. Akhirnya, dalam ilmu apapun, saya berkesimpulan bahwa alam semesta-lah yang kemudian dapat menjawab semua pertanyaan tentang teori-teori yang sempat membuat saya kebingungan.
Keberuntungan kedua yang cerdas. Keberuntungan saya yang terencana ini adalah salah satu efek dari giatnya memperoleh teman. Kalau saja dulu saya tidak sempat minggat dari rumah karena keyakinan dan kemauan keras saya dalam mendapatkan sebuah impian kuliah di jurusan broadcast, saya yakin, ini bukan yang namanya keberuntungan. Sekarang saya selalu bekerja dan dihadapkan pada sebuah Team. Pada dasarnya, semua hasil akhir dihasilkan dari visi dan misi yang kuat. Mohon buang kalimat bahwa saya disetir oleh industri. Bertemu lagi dengan yang namanya persepsi, sudah biasa kalau hanya dikritik yang katanya mendidik. Dengan ide-ide kecil, suatu sentuhan yang tidak terlihat, serta komunikasi yang sulit dengan orang yang jarang berhadapan dengan kamera, itu tidak bisa dikerjakan secara individu. “Jangan melulu menilai orang dahulu sebelum tahu”. Yang terpenting dalam mengerjakan sesuatu adalah manfaat. Sial nanti jika kita masih tidak rasionalis.
Keberuntungan ketiga saya –yang sebelumnya saya anggap kesialan- adalah menjadi Guru “Dasar Komunikasi” di salah satu SMK Jurusan Broadcast. Hal ini memacu saya untuk ‘belajar’ lagi mengenai seluk beluk: Persepsi - Komunikasi. Proses pembelajaran saya yang nantinya akan mengarah pada Komunikasi Penyiaran, lebih menekankan pada cara untuk dapat saling berinteraksi dengan berbagai macam karakter orang, kemudian menimbulkan feedback/umpan balik. Seperti yang saya katakan bahwa saya beruntung, dapat membagi ilmu untuk siapapun adalah suatu terapan berguna bagi hidup. Untuk apa kita mempelajari dan mendalami suatu hal jika tidak dapat dibagikan?
Inilah yang saya suka: Saling menghargai.
Yang saya garisbawahi adalah bagaimana sebuah perbedaanlah yang membentuk mufakat itu sendiri. Dan bagaimana mungkin seseorang dapat berkata “Perfect” tanpa melihat kesiapan orang lain. Jangan terlalu larut dengan masalah selera, disiplin ilmu sekarang ini sudah menghasilkan banyak terapan untuk dibagikan hasilnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi apa yang namanya aturan. Padahal jika dipelajari, dapat ditarik garis relasi antara Persepsi - Komunikasi - ke disiplin ilmu lainnya.
Jadi, jika masih ingin membawa nama baik sebuah komunitas dan mempunyai kredibilitas yang dihasilkan oleh persepsi itu sendiri, setidaknya kita harus berani dan tegas dalam berilmu, tak lupa bahwa perbedaan itu adalah tanda seru “!”
Magelang, 28 Agustus 2011
Yosa Irfiana

Foto by: Chandra Pradityatama
You and I painting rainbows when no rain falls on our wall
Smelling raindrops on a hilltop as they fall
You and I laughing loudly with no reasons in our walk
Chasing sunsets, dancing minuet in the dark
Why don’t we just disappear
If that could keep us here?
You and I sharing snow fall and the beach sand in our thoughts
Writing love words with our whispers in our hearts
You and I stealing kisses from each other when we fight
Making wishes on the same star every night
Why don’t we just dream away
If that could make us stay?
Why can’t we just dream away?
We’re not real, anyway
ta ra ta ta ta ta ta ra ta ta
ra ta ta ra ta ta ta ra
ta ra ta ta ta ta ta ra ta ta
ra ta ta ra ta ta ta ra
Why don’t we just stay this high?
Pretend we’re all that fly
Why can’t we just stay this high?
We might rule our own sky
You and I singing solo our very own silly song
Playing lovers of all edens all life long
All life long
All life long